Selasa, Jun 28, 2005

Comic Clan Exposed! :

" THE MELAKA EXCURSION "

EVENT : "CABARAN BANNER LUKISAN KARTUN TERPANJANG MALAYSIA" +
"KEMPEN MENANGANI KENAKALAN REMAJA"

TIME : 24 & 25 JUNE 2005

DESTINATION : HANG TUAH WALK, THE HISTORICAL REGION OF MELAKA


Melaka is an amazingly cool event. My only regret is that I only had a couple of days to walk around it. It is on my list of places to come back to... (if there's still the traffic escort police). Rasa cam anak Raja lak itu hari bila kiri-kanan-depan-belakang ada polis jaga - kehkeh!

Surrounded by mad,mentally distorted cartoonist, life's just great this past weeks. Except the fact that the lack of sleep really agitate my body a bit.

Then I got even more imaginative. One of them, with the help of the other, even clambered up my imagination stairs and told me a story of excellent wonders and awe. A brilliant new idea for a way to definitely get to my attention. None of this bothered me until Melaka, who had his back to them.

Only on for a few moments --- I'm in Melaka, and have been for two days, and have just figured how to get ideas work differently (it's only possible if you ignore the brain non-functioning "disconnection" completely, rather than trying to make it work.) Several years of waiting, along with the discovery that lots of disturbance and skeptics didn't reach the people I meant to have reached, which needs to be remedied, and I also need to think and sleep on it...


p/s :
sila maafkan dan abaikan pakaian kami yang sepertinya umpama pelatih Khidmat Negara.






















































... and history begins



































day one - The Mahkota Parade Invasion!


































seniman jalanan yang betul-betul berada di jalanan


































As long as it takes.



































"MAJULAH KARTUN UNTUK NEGARA"



































Teka sapa yang mandi,sapa yang tak mandi pagi tadi?!


































Time tu la dia nak ke jamban...


































... Next stop : The World!

Rabu, Jun 22, 2005

Catatan Suatu Jeda !









































Telah lama aku berlari dalam sesaknya kehidupan dalam waktu yang panjang. Kini aku mulai berjalan... dalam kelelahan dan kebosanan. Dalam rintih yang terhayati oleh kerinduan kepada akan datang. Aku menanti itu dari waktu yang tidak pernah berlalu. Detik yang berdetak hanya menyiksakan hati yang barangkali retak.


“Hidup itu menyesakkan” kata pemuda dengan wajah terkurung duka.Hanya bantalan kosong yang menawarkan mimpi membuaikan”.


Jika demikian maka aku ingin sahaja menjadi waktu, dimana kehidupan aku dilahirkan. Aku akan menjaga batin. Biar aku tidak mengandung sisa sesalan kehidupan, biar aku tidak melahirkan keputus-asaan. Bagaimana jika kehidupan buat aku tiada? Maka untuk siapakah dunia ini? Apakah dia akan tetap menjalani dirinya, menjadi ada dalam segala tiada, lalu untuk apa? Aku pun langsung jadi takut. Hidup terlalu hebat, dia menjadi inti dari kehidupan.

Masih dalam perjalananku yang sunyi. Dimana aku seiringan dengan sepi perjuangan. Membuang kebuntuan. Aku merasai pahitnya hidup dari rentetan zaman. “Pahit hidup akan mendidik menjadi manusia”, kata ingatan. Terima kasih tapi hidup yang menelantarkanku. Dia telah meninggalkan aku dalam langkahnya yang berlalu. Untuk meneriak... lidah masih kelu... untuk mengejarnya rasa langkah masih lesu. Maka akan aku putuskan untuk menghadangnya dan mengikatnya jika nanti ketemu.

Aku terpasung dalam sesal, bak beribu duri tali yang mencekik alur nafas. Lepaskan kepala ingatan, pisahkan dari badan. Biar setiap langkah tidak perlu lagi menjadi beban fikir aku. Tubuh akan berbau malu tanpa tahu muka. Biarkan muka ini mencari peribadi tanpa tingkah laku. Demi sang waktu yang selalu menakutkan, aku bahkan tidak mampu untuk sekadar memalingkannya. Izinkan aku berpaling...

Aku takut.
Biar aku berlari jauh-jauh.

Sang waktu kini yang mengejar aku - dia telah bosan aku kejar. Kini, sang waktu membawa harapan dalam saku saktinya. Abaikan lelah aku, larilah jiwa aku, tinggalkan jasad ini, selamatkan diri dan sang harapan kini memeluk aku. Waktu meninggalkan aku sambil berkata : selamat datang.

Selasa, Jun 21, 2005

" I am sitting here typing ... and I just felt like a prickly ghost of static wind. "


































Right. They've just told me that I now have to say something about both of 'them' in my journal for what happened to be an unfortunate event. So I shall.

( Ah! well, we'll figure something out for us to do next time that will be fun for everyone. )



And in the meantime...



I think this blog tends to be sort of seasonal. There are seasons where I just seem to be answering questions, and seasons when I seem mainly to post bizarre unwanted expressions, and seasons when it's essays on feelings and love, or on home life, or whatever. It's accumulated about a million words of burble over nearly two years. When I started the blog, somewhere early of 2004, I just wanted to tell people what it was like to follow a life from imperfection to naivety. I continued writing it because there are actually people reading it and I really appreciated the instantaneous and unmediated access to the world, whether I wanted to talk about freedom of speech or link to a man obsession with mortal love and impulsive emotion.

I don't think I'm particularly evasive, or even close-chested, about my personal views. (Mostly what I am politically is vague and non-specific.)

Well, you're writing to communicate. Unless part of what's important about the story is that the reader not understand something, if you're using a word or term that you know most people reading won't understand, then explaining it somewhere, somehow, not necessarily the first time you use it, is a wise idea.

As for how you do it, that's my call. If you do it with enough assurance, you can simply tell people things. Or you can have your characters tell people things. Or you can footnote it in your mind. Or have a dancing paperclip leap in and explain, then fly out of the story never again to be seen. As you say, do what you think best: that's the joy of being a writer. You get to make your own rules and build your own worlds, and things happen the way you want, because you say so.
...


p/s:

Q : How do you define 'people' in your head?

A : Mostly what I do is research without knowing that's what I'm doing. I'll get obsessed with things and want to know all about them, without having much of a reason that I can articulate, then ten years later I'll realise that it's composted down into somewhere that a story is growing.

But I'll do both, often on the same project. I'll write until I need to find something out (how do you perform an autopsy?), then find it out. Or I'll go and find everything I can out ahead of time (I wonder how it's like there?), and then forget it during the writing process. I never write out full dossiers on characters and so forth, because I'd rather put the time into writing them and find out that stuff that way, but I don't think there's anything wrong with doing the dossier method, it's just not for me. (I don't think there's anything wrong with any method of writing that gives you a book at the end of it.)


It occurs to me that if I actually reach down and touch this 'people', the immediate result will be a lot like ... amazing.

Rabu, Jun 15, 2005

Kita semua.


Bila ada yang menangis hiba di antara kita semua, itu mungkin kamu. Tapi mungkin juga aku (mungkin). Aku tidak tahu bagaimana memulakan tentang ini, kerana seolah kata ini telah menjadi lumrah bahkan sebelum sempat diucapkan. Aku tidak tahu-menahu apa aku masih ada kesempatan untuk memanggil segenap ketenangan hati dan jiwa ... sedang aku telah menjadikan itu yang terluka dan terpukul oleh perasaan simpati.

Aku fikir aku telah kenal ‘hidup’. Setiap kali nafas kita semua memburu sejak yang lalu, selalu menyatu kamu dan aku untuk kesekian kalinya. Tidakkah cerita sepanjang jalan, sepanjang akal dan emosional, adalah sepanjang ketabahan kita?

Bukankah hati ikut menjerit-jerit dalam hasrat cumbu rayu dan dabik dada? Kita semua yang kini masih terluka berbalut dalam badai dunia. Aku masih ingat, selalu memperhatikn dan akan tetap seperti itu. Jangan pernah ragu dan salah. Biarlah hari ini kita dicuba perasaan. Mengubatinya sendiri.

Ini buat yang tahu dan faham :

“ Tidak pernah aku cuba untuk mengerti hujan yang tidak kunjung datang, ataupun senyap kabut warna yang kesat mata menyelimuti pergantian hari. Mengombak dalam sunyi disela jeda celoteh lidah, terselip diantara degup nadi jantung. Ada arus taburan yang sama beterbangan. Barangkali mereka tidak yang lain hanya aksara yang menunggu segenap indera memetik ranumnya jadi bait bait tidak terkata. Bahasa yang menunggu terjemah rasa menyuling makna yang mungkin tidak perlu ada. Kerananya barangkali tidak perlu seorang pun memahami, betapa lebih tegar untuk mengalir dalam rawan dan susut arusnya yang tidak terbaca daripada menerka atau memberi nama bagi perjalanan, perjumpaan dan kejadian kejadian melepas deras catatan-catatan semalam ”.

Selasa, Jun 07, 2005

...I suspect I did this to myself, actually.

I think one of the key things to remember about human beings is their optimism and their faith. I liked being a journalist / writer. So, like I said before and after. It's good. On the job there's much way to learn and write and think , and you get to meet people from all walks of life, and learn a lot about a number of things, like never to rely on anything you read in a newspaper or magazines ever again. If you're going to write, you'll write anyway. Best to learn everything you can about everything else you can in the meantime ( you'll need to know something about everything if you want to write, or at least know where to ask for help ), and plan to get as much living in as possible. Read a lot. Learn. Meet people. Write. Finish things.

And in a credit to my own optimism and faith, I keep trying. Haven't succeeded yet, of course. But still. It makes you proud to be human.

And please don't send me things to read if it has nothing to do with me. I'll feel guilty for not reading them, and you'll just be disappointed that I never reply. Too many people send me too many things to read, and if I read them I'd never get any writing done, and I'd still disappoint most of the people who wrote.

: (

Anyways....

I'm still pleasantly surprised at events and visitors when people say "I read your blog journal".

No idea why I'm posting this right now. I should be working now.

Khamis, Jun 02, 2005

Akankah IA menunggu hati untuk mencair kebekuan rasa curiga?
( tulisan ini mungkin mengundang rasa juak ... maaf. )




































Terkadang aku jatuh cinta. Entah pada siapa. Hanya mencinta tanpa dicintai. Rindu pada sesuatu yang tak ada. Mungkin aku hanya mencintai rasa yang tumbuh, keterujaan yang membelai, menikmati bersamanya, kemudian mendapatkan rasa itu hingga selamanya. Namun akan selalu kembali untuk mencintai. Aku tak juga serik mencinta.

Indah. Aku cinta diri ketika aku jatuh cinta. Jiwa benyanyi indah riang. Kehangatan menyelusup masuk dalam batin. Dunia sangat mekar. Harum yang selalu kucari mengilhami. Matahari menyinar seterik alam. Hujan tercipta hanya untuk aku, dan pelangi tersenyum selalu pada aku. Hanya aku. Langkahku ringan. Tidak! Aku tidak melangkah ketika jatuh cinta. Aku melayang bersama angin. Hinggap di tempat yang aku suka. Berpijak di tanah yang aku inginkan. Bersua dengan cinta kembali dan melambaikan selamat tinggal pada sengsara deria. Tinggal di sana sampai bila-bila lagi. Dan angin itu kembali menghantar aku. Ia sahabatku yang paling setia... tanpa banyak soal bicara

Namun aku benci ketika aku tidak menemui ilham cinta. Aku hampa. Jiwaku terbang bersama angin tanpa diri aku. Aku sendirian pada kadang ketika. Aku bosan juga barangkali. Aku kesepian menunggu bila jiwa akan kembali. Luka yang ditinggalkan kembali menyapa. Membawa sakit menusuk. Merobek hati kosong yang ditinggalkan oleh jiwa. Hanya dingin dan pedih yang dapat dirasa. Aku ingin kehangatan itu kembali. Dan kesabaran ini adalah satu-satunya taruhan buat kesudian.

Jatuh cinta manis. Memenuhi ruang yang kosong. Memanaskan darah. Menyejukkan batin. Aku selalu rindu jatuh cinta. Aku ingin terus jatuh cinta. Aku tidak ingin tidak lagi boleh mencinta kalau peluang dan kesempatan itu datang lagi.

Hanya saja, saat ini aku tak dapat mencinta. Jiwa ini sedang berkelana seorang diri. Mungkin menemui susuk jiwa lain dalam kehampaan yang ia tinggalkan untuk aku. Jika angin hendak menyampaikan, aku titip salam cinta untuk jiwa yang masih bergelora. Ketika ia kembali, aku ingin ia bercerita tentang erti hidup. Dan suatu saat nanti, angin akan kembali menghantarku. Dipandu oleh jiwa. Bertemu setia yang sering bersua janji. Namun kali ini aku berjumpa tidak dalam kehampaan, melainkan dalam kehangatan cinta. Aku hinggap di sampingnya dan tak lagi pergi. Angin hanya menghantar sekali jalan. Tidak akan lagi membawa pulang. Lalu, akankah aku berhenti jatuh cinta?


Dulu pernah aku berada pada posisi itu, ketika cinta dan emosi-emosi semacamnya begitu hebat dan mempengaruhi alun sedemikian rupa sehingga membuat hari-hari tidak penting lagi. Mungkin kerana aku saat itu memandang cinta sebagai sebuah pertarungan (sebagaimana kebanyakan manusia memandang segala sesuatu) yang harus dimenangkan, sementara kenyataan sering tidak setuju dengan kenyataan itu. Luka sepertinya menjadi seteru utama yang sering berjaya menduga akal sihat dan hati nurani.

Dalam ranjang waktu, entah apa yang menyebabkannya. Aku mula mengalami beberapa "pencerahan" tentang cinta. Lalu dibawah sedar aku juga mulai menerima begitu banyak aliran kasih sayang dan semangat dari para sahabat, keluarga, sahabat yang serasa keluarga, rakan kerja, bahkan dari sang nasib sendiri. Aliran itu begitu kuat, hampir-hampir tidak mampu aku terima sehingga patah hati, luka cinta, sakit khianat... sebutlah apa saja ujian yang mungkin menimpa perasaan seseorang, tidak mampu lagi membuat aku kecewa, putus asa, hampa dan sengsara pada waktu-waktu yang memerlukan ia terjadi.

Segala menjadi terasa begitu wajar dan sangat jelas sekarang. Boleh jadi aku teringat kata-kata ini : “ Pengalaman itu mengajar manusia menjadi manusia ”

Mungkin, ketika kata cinta ini membuat rasa terganggu atau terusik, barangkali memang ada yang kita sedang ingkari. Meskipun yang kita tolak dalam diri kita itu sesuatu yang kita anggap sukar. Sesuatu yang teramat indah, sungguh mengisi dan mengilhami...

Blog Archive

Cari Blog Ini

Dikuasakan oleh Blogger.

A Block of Text

A Block of Text


Hi. Saya kenal anda. Mungkin anda tidak kenal saya. Tiada masalah. Mari berkenalan!

About Me

About Me

Blogger templates

ENTRI TERBARU

Bertahan

Bukan senang untuk bertahan setiap hari jika tidak banyak sokongan yang sewajarnya aku dapat dan perlu datang pada tepat waktu. Mungkin saha...