Apa power X-Men lu ?

Suatu hari, di mapley kepunyaan seorang mamak yang padat jumlah pengunjungnya dan juga jenis yang memandai-mandai membuka lot-lot meja di tempat parkir.

Cuacanya baik, anginnya pula sepoi-sepoi bahasa kebangsaan. Macam-macam orang ada kat situ. Yang ada cerita, yang takde cerita, yang kaki ngadu, kaki kutuk, kaki kencing, yang berkaki-kaki dan yang bertangan-tangan. Yang ada IC, yang takde IC, yang ada permit, takde permit, yang ada cerita, yang takde cerita, kaki ngadu, kaki kutuk, berkaki-kaki. Semua ada. Cuma bahasa kebangsaan masing-masing punya hal. Angin tak masuk campur hal sepoi-sepoi mereka.

Angle camera bergerak menuju ke arah satu meja di tengah-tengah hiruk pikuk mapley. Tracking slow dan perlahan. Background music soundtrack irama rap dan hip hop dari barat buatan negro saduran. Yang aliran henjut-henjut layan kepala punya. Tak berat tak ringan. Sederhana jugalah seadanya irama itu. Diselang-selikan dengan audio mamak menjerit-jerit ambil order, suara makwe gelak kuat-kuat dan siaran ulangan bolasepak kat Astro.

Camera stop. Established shot.

Dua tiga ekor kutu komik sedang rancak berdebat soal iklim industri komik semasa, seperti kebiasaannya. Yang sorang pejuang komik era 90an, yang sorang pengumpul TP dan bekas pengumpul komik single dan yang sorang lagi bakal tokey kedai komik runcit-runcitan.

Dengan secara tiba-tiba, satu soalan diaju kepada salah satu diantara mereka oleh salah satu kutu tersebut :


" ...dalam banyak-banyak power X-Men, yang mana satu favorite lu ? "

" Gua ? "

" Ye la. Lu. "

" Gua chopp Onslaught. Onslaught terer gile siol! ", pejuang komik 90an menyampuk tak tentu hala.

" Diam. Gua tak tanya lu. Ha! Lu, cepat la jawab. "

" Gua kalau boleh nak power mutasi milik Multiple Man. "

" Apa pasal? "

" Ada la. Rahasia. "

" Licik. Licik. Lu memang licik. "

Ulasan