gua rasa nak sambung belajar tarekat kalau ada rezeki.

Sejurus tengahari tadi, setelah santai sambutan Hari Ayah, duduk serta membaca tafsir dan tamsil tulisan Rumi. Terus sahaja terpaut. Sayangnya, tak ramai yang tahu betapa dalamnya maksud kata yang di atas kata. Termasuk gua.

Cinta yang dibangkitkan
oleh khayalan yang salah
dan tidak pada tempatnya
bisa saja menghantarkannya
pada keadaan ekstasi.

Namun kenikmatan itu,
jelas tidak seperti bercinta dengan kekasih sebenarnya
kekasih yang sedar akan hadirnya seseorang yang
mencintainya ini
sebagaimana kenikmatan lelaki
yang memeluk tugu batu
di dalam kegelapan sambil menangis dan meratap.

Meskipun dia merasa nikmat
kerana berfikir bahawa yang dipeluk adalah kekasihnya, tapi
jelas tidak senikmat
orang yang memeluk kekasih sebenarnya
kekasih yang hidup dan sedar.

Rumi memang bukan sekadar penyair tetapi juga seorang tokoh sufi yang berpengaruh di zamannya. Rumi adalah guru nombor satu Tarekat Maulawiah. Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran. Di zamannya, umat Islam memang sedang dilanda penyakit itu. Bagi mereka kebenaran baru dianggap benar bila mampu digapai oleh indera dan akal. Segala sesuatu yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal, dengan cepat mereka ingkari dan tidak diakui.

Rumi mengatakan, Orientasi kepada indera dalam menetapkan segala hakikat keagamaan adalah gagasan yang dipelopori kelompok Mu’tazilah (pemisah diri). Mereka merupakan 'budak-budak' yang tunduk patuh kepada panca indera. Mereka menyangka dirinya termasuk Ahlus-Sunnah. Padahal, sesungguhnya Ahlus-Sunnah sama sekali tidak terikat kepada indera-indera dan tidak mau pula memanjakannya. Tidak layak meniadakan sesuatu hanya kerana tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau belum pernah meraba dengan indera. Sesungguhnya, batin akan selalu tersembunyi di balik yang lahir, seperti faedah penyembuhan yang terkandung dalam ubat. Padahal, yang lahir itu senantiasa menunjukkan adanya sesuatu yang tersimpan, yang tersembunyi di balik dirinya.

Malam larut, malam memulai hujan
inilah saatnya untuk kembali pulang.
Kita sudah cukup jauh mengembara
menjelajah rumah-rumah kosong.
Aku tahu: teramat menggoda untuk tinggal saja
dan bertemu orang-orang baru ini.
Aku tahu: bahkan lebih pantas
untuk menuntaskan malam di sini bersama mereka,
tapi aku hanya ingin kembali pulang.

Kearifan Cinta dan Saatnya Untuk Pulang
- Maulana Jalaluddin Rumi

Ulasan