Aku dan Konsepsi sebuah Hizib

" ...dalam makrifat ada makna. Maksud yang paling jelas merenung kita. Kelihatan dengan mata kasar. Hanya syukur dapat memberitahu. "

Eksistensi Allah Robbul-Jalil merupakan salah satu keperluan mendasar intelektualisme manusia dari dulu hingga kini. Perkara ini telah merangsangkan pemikiran manusia lebih dari kemahuan mereka akan hal-hal selainnya. Begitu banyak corak serta ragam konsep teologi disusun untuk memuaskan kehendak manusia akan hal yang bersifat transcendental ini. Baik yang berpandukan wahyu mahupun konsep yang berangkat dari alam pemikiran rasional manusia.

Dalam perkembangannya, penyusunan corak konsep teologi ini kemudian menciptakan polarisasi umat manusia menjadi dua golongan besar yang sama sekali berbeza; teologis dan filsuf. Kedua golongan ini memiliki perbezaan yang khas. Teologis adalah mereka yang berusaha menyelidiki isu-isu ketuhanan melalui wahyu, sementara filsuf adalah mereka-mereka yang sanggup berusaha menjawab persoalan ketuhanan dalam penalaran rasional.

Namun - meskipun yang begitu, bukan tidak ada corak lain dalam teologi yang kemudian menandakan dinamiknya perkembangan intelektual manusia.

Justeru, buku Paling Unggul dan Maha Hebat di alam ini; Al-Quran Nul-Karim bukan sahaja kitab yang bicara soal ketuhanan dan keEsaannya semata. Dalam banyak ayatnya, Tuhan juga hadir bersama fenomena kesemestaan. Ertinya, Tuhan difahami dengan membaca seluruh pertanda alam. Ketuhanan terpancar dari potensi ilahiah semua makhluknya. Di sini, sebagai penafsir, manusia dianugerahi kemampuan menalar dan merenung untuk menyingkap alam esoteris Al-Quran. Alam yang tidak habis-habis ditimba samudera maknanya, tidak juga berbatas meskipun dijelajah seluruh ayatnya.

Biarpun secara empiris, Al-Quran kini menjadi panduan keberagamaan umat Islam, namun secara hakiki, kitab suci ini membawa misi yang universal. Al-Quran ditujukan bagi rahmat semua umat dan dalam keseluruhan dimensi waktu. Sayangnya, universalisasi tersebut kini masih sebatasan potensi sahaja. Umat hari ini belum mampu sepenuhnya menerjemahkannya dalam gagasan dan aksi nyata.

Sesungguhnya, rata-rata masyarakat telah melupakan atau bahkan tidak mahu tahu tentang nilai-nilai dan esensi ajaran Islam itu sendiri. Mereka hanya melihat sebelah mata saja tentang ajaran Islam. Hal ini tentunya akan sangat berpengaruh besar terhadap dunia esoteris (dalam batin) mereka. Selain itu, juga kepada dunia eksoteris (luar batin) mereka. Kerana pada hakikatnya, Islam adalah agama yang mengajarkan ketaatan, kepatuhan, dan sikap pasrah penuh pada sang Khalik di satu sisi. Di sisi yang lain, sebenarnya Islam sangat mengahargai manusia. Jadi, sebenarnya Islam mengajarkan pada kita untuk menjadi seorang sufi, berhubungan langsung dengan Tuhan (secara vertikal), tapi juga tidak melupakan bahawa mereka adalah makhluk dunia yang harus hidup dan berinteraksi dengan sesama (horizontal).

Jadi beginilah,

Seorang penyair seringkali perlu dan harus bersusah-payah menemukan sebuah kata untuk sebongkah imaginasinya. Sedangkan, seorang sufi seringkali tidak tahu bagaimana hadir serangkaian kata-kata indah mengalir begitu saja dari bibirnya untuk sehamparan realiti. Mungkin itu bezanya seseorang yang bekerja dengan imaginasi dan seorang yang menyatu dengan realiti sebenar.

Buat sahabat, semalam dan esok. Harap kita semua bersabar dan redha dengan ujian dan dugaan Tuhan. Setiap yang berlaku serta satu-satu kejadian itu punya sebab dan ada berisi sesuatu. Moga kita semua beroleh sesuatu akan 'sesuatu' itu. Kita semua punya ikhtiar dan tekad.

Ulasan