" KENAPA SAMPAI BEGINI? "

Hari ini ia telah berkata tidak dalam kesetujuan(sebenarnya),
hari ini ia telah terasa 'dalam' perasaan dan fikirnya untuk aku
dan pasti tak lama lagi ia akan mencariku
dalam kemesraan yang berlanjut dan takkan berakhir entah bila lagi
hanya tinggal menunggu sampai waktu itu.

Hanya jiwa yang tahu sampai bila jawapannya
tapi, aku yakin...
Ia akan mencari aku dalam rindu yang selalu terpaut.



***


...satu pelaburan perasaan!

Benar. Sebagai seorang yang selalu sahaja bertanyakan dan mencari arah tentang soal kehidupan, perasaan ini seringkali memandang cinta atau ungkapan apa saja yang sinonim dengannya dengan fahaman yang tentu saja... luarbiasa. Cinta dan semua melankolia yang terkait langsung maksud syaratnya dan membuatnya sedikit "terusik".

Emosi. Sensitif. Sentimental. Sangat dalam dan meresap.

"~Jadilah laki-laki!", katanya setiap kali aku mendengar ucapan keluhan diri, bahkan rengekan batin ini terutamanya bila laki-laki seperti aku sedang sarat merasa semangat kejiwaan akibat perasaan "perasan" yang dialami, baik senang mahupun luka.

Dulu pernah aku berada pada perasaan ini, ketika cinta dan emosi-emosi semacamnya begitu mencengkam dan mempengaruhi hidup sedemikian rupa sehingga membuat hari-hari berlalu pantas. Mungkin kerana aku saat itu memandang cinta sebagai sebuah pertarungan(sebagaimana kebanyakan orang memandang segala sesuatu) yang harus dimenangkan, sementara kenyataan hidup sering tidak sehaluan dengan ikhtibar tersebut. Luka sepertinya menjadi jalan utama yang sering mencabar akal sihat dan hati cekal.

Dalam sepanjang waktu juga, entah apa dan dari mana yang menyebabkannya. Aku mulai mengalami beberapa "pencerahan" tentang cinta. Lalu secara tidak sedar, aku mulai menerima begitu banyak aliran kasih sayang dari para sahabat, keluarga, sahabat yang serasa keluarga, rakan kerja, bahkan dari sang nasib sendiri. Aliran itu begitu kuat... hampir-hampir tidak mampu aku terima sehingga patah hati, luka jiwa, sakit khianat - sebutlah apa sahaja kepedihan dan kekecewaan yang mungkin menimpa perasaan seseorang itu. Ia adalah kemampuan rasa yang teramat jengkel.

Segalanya sekarang menjadi terasa begitu wajar.

Mungkin ketika kata hati dan jiwa ini membuat rasa sedikit terusik, barangkali memang ada yang kita sedang nanti dan bakal temui. Meskipun yang kita tolak dalam diri kita itu sesuatu yang kita anggap takdir. Sesuatu yang sudah tertulis...

Ulasan