Catatan Suatu Jeda !









































Telah lama aku berlari dalam sesaknya kehidupan dalam waktu yang panjang. Kini aku mulai berjalan... dalam kelelahan dan kebosanan. Dalam rintih yang terhayati oleh kerinduan kepada akan datang. Aku menanti itu dari waktu yang tidak pernah berlalu. Detik yang berdetak hanya menyiksakan hati yang barangkali retak.


“Hidup itu menyesakkan” kata pemuda dengan wajah terkurung duka.Hanya bantalan kosong yang menawarkan mimpi membuaikan”.


Jika demikian maka aku ingin sahaja menjadi waktu, dimana kehidupan aku dilahirkan. Aku akan menjaga batin. Biar aku tidak mengandung sisa sesalan kehidupan, biar aku tidak melahirkan keputus-asaan. Bagaimana jika kehidupan buat aku tiada? Maka untuk siapakah dunia ini? Apakah dia akan tetap menjalani dirinya, menjadi ada dalam segala tiada, lalu untuk apa? Aku pun langsung jadi takut. Hidup terlalu hebat, dia menjadi inti dari kehidupan.

Masih dalam perjalananku yang sunyi. Dimana aku seiringan dengan sepi perjuangan. Membuang kebuntuan. Aku merasai pahitnya hidup dari rentetan zaman. “Pahit hidup akan mendidik menjadi manusia”, kata ingatan. Terima kasih tapi hidup yang menelantarkanku. Dia telah meninggalkan aku dalam langkahnya yang berlalu. Untuk meneriak... lidah masih kelu... untuk mengejarnya rasa langkah masih lesu. Maka akan aku putuskan untuk menghadangnya dan mengikatnya jika nanti ketemu.

Aku terpasung dalam sesal, bak beribu duri tali yang mencekik alur nafas. Lepaskan kepala ingatan, pisahkan dari badan. Biar setiap langkah tidak perlu lagi menjadi beban fikir aku. Tubuh akan berbau malu tanpa tahu muka. Biarkan muka ini mencari peribadi tanpa tingkah laku. Demi sang waktu yang selalu menakutkan, aku bahkan tidak mampu untuk sekadar memalingkannya. Izinkan aku berpaling...

Aku takut.
Biar aku berlari jauh-jauh.

Sang waktu kini yang mengejar aku - dia telah bosan aku kejar. Kini, sang waktu membawa harapan dalam saku saktinya. Abaikan lelah aku, larilah jiwa aku, tinggalkan jasad ini, selamatkan diri dan sang harapan kini memeluk aku. Waktu meninggalkan aku sambil berkata : selamat datang.

Ulasan

areyoung berkata…
Harapan yg membuahkan kegembiraan. Aku tumpang hepi ek..? ;)
thesandman berkata…
di alu-alukan untuk bertumpangan,malah lebih gembira dari itu pun : boleh.