Akankah IA menunggu hati untuk mencair kebekuan rasa curiga?
( tulisan ini mungkin mengundang rasa juak ... maaf. )




































Terkadang aku jatuh cinta. Entah pada siapa. Hanya mencinta tanpa dicintai. Rindu pada sesuatu yang tak ada. Mungkin aku hanya mencintai rasa yang tumbuh, keterujaan yang membelai, menikmati bersamanya, kemudian mendapatkan rasa itu hingga selamanya. Namun akan selalu kembali untuk mencintai. Aku tak juga serik mencinta.

Indah. Aku cinta diri ketika aku jatuh cinta. Jiwa benyanyi indah riang. Kehangatan menyelusup masuk dalam batin. Dunia sangat mekar. Harum yang selalu kucari mengilhami. Matahari menyinar seterik alam. Hujan tercipta hanya untuk aku, dan pelangi tersenyum selalu pada aku. Hanya aku. Langkahku ringan. Tidak! Aku tidak melangkah ketika jatuh cinta. Aku melayang bersama angin. Hinggap di tempat yang aku suka. Berpijak di tanah yang aku inginkan. Bersua dengan cinta kembali dan melambaikan selamat tinggal pada sengsara deria. Tinggal di sana sampai bila-bila lagi. Dan angin itu kembali menghantar aku. Ia sahabatku yang paling setia... tanpa banyak soal bicara

Namun aku benci ketika aku tidak menemui ilham cinta. Aku hampa. Jiwaku terbang bersama angin tanpa diri aku. Aku sendirian pada kadang ketika. Aku bosan juga barangkali. Aku kesepian menunggu bila jiwa akan kembali. Luka yang ditinggalkan kembali menyapa. Membawa sakit menusuk. Merobek hati kosong yang ditinggalkan oleh jiwa. Hanya dingin dan pedih yang dapat dirasa. Aku ingin kehangatan itu kembali. Dan kesabaran ini adalah satu-satunya taruhan buat kesudian.

Jatuh cinta manis. Memenuhi ruang yang kosong. Memanaskan darah. Menyejukkan batin. Aku selalu rindu jatuh cinta. Aku ingin terus jatuh cinta. Aku tidak ingin tidak lagi boleh mencinta kalau peluang dan kesempatan itu datang lagi.

Hanya saja, saat ini aku tak dapat mencinta. Jiwa ini sedang berkelana seorang diri. Mungkin menemui susuk jiwa lain dalam kehampaan yang ia tinggalkan untuk aku. Jika angin hendak menyampaikan, aku titip salam cinta untuk jiwa yang masih bergelora. Ketika ia kembali, aku ingin ia bercerita tentang erti hidup. Dan suatu saat nanti, angin akan kembali menghantarku. Dipandu oleh jiwa. Bertemu setia yang sering bersua janji. Namun kali ini aku berjumpa tidak dalam kehampaan, melainkan dalam kehangatan cinta. Aku hinggap di sampingnya dan tak lagi pergi. Angin hanya menghantar sekali jalan. Tidak akan lagi membawa pulang. Lalu, akankah aku berhenti jatuh cinta?


Dulu pernah aku berada pada posisi itu, ketika cinta dan emosi-emosi semacamnya begitu hebat dan mempengaruhi alun sedemikian rupa sehingga membuat hari-hari tidak penting lagi. Mungkin kerana aku saat itu memandang cinta sebagai sebuah pertarungan (sebagaimana kebanyakan manusia memandang segala sesuatu) yang harus dimenangkan, sementara kenyataan sering tidak setuju dengan kenyataan itu. Luka sepertinya menjadi seteru utama yang sering berjaya menduga akal sihat dan hati nurani.

Dalam ranjang waktu, entah apa yang menyebabkannya. Aku mula mengalami beberapa "pencerahan" tentang cinta. Lalu dibawah sedar aku juga mulai menerima begitu banyak aliran kasih sayang dan semangat dari para sahabat, keluarga, sahabat yang serasa keluarga, rakan kerja, bahkan dari sang nasib sendiri. Aliran itu begitu kuat, hampir-hampir tidak mampu aku terima sehingga patah hati, luka cinta, sakit khianat... sebutlah apa saja ujian yang mungkin menimpa perasaan seseorang, tidak mampu lagi membuat aku kecewa, putus asa, hampa dan sengsara pada waktu-waktu yang memerlukan ia terjadi.

Segala menjadi terasa begitu wajar dan sangat jelas sekarang. Boleh jadi aku teringat kata-kata ini : “ Pengalaman itu mengajar manusia menjadi manusia ”

Mungkin, ketika kata cinta ini membuat rasa terganggu atau terusik, barangkali memang ada yang kita sedang ingkari. Meskipun yang kita tolak dalam diri kita itu sesuatu yang kita anggap sukar. Sesuatu yang teramat indah, sungguh mengisi dan mengilhami...

Ulasan

SayLo berkata…
tidak salah jika mencinta
tapi biar kau cukup sempurna
kerna ia takkan ke mana
disisimu jua ia akan bersama

tidak salah jika mencinta
tapi jangan sampai merana
kerna bukan engkau saja merasa
yg lain juga ingin bahagia

*jika si dia benar² untukmu,takkan ada sebab untuk menjauh.