Saksi aku sendiri

butir-butir bintang
yang menyusun pagar langit
telah simpan perit jerih
tidak mampu lagi aku tapi halus jarum itu
masih memburu.

...hingga ke balik-balik kehampaan
mata ini sering terbias
kesempitan
kesekian kalinya
terundak memapah sesalan penuh luka
di pundak sajak
sajak dan puisi ini : rahsia yang selalu terhitung
lebih renta dari usia dusta
saat paling gentar menginginkan adalah ketika ranting semangat
memeluk dari dari setiap sudut
sebelum harapan menyiangi jejak bulan
dari kubang kenangan
yang pelan-pelan ruyup
dan melangkah ke tepian angan
menjura sekarat mimpi.

sisip rindu
yang tak pernah sampai
mungkin dada akan terus gelora
di atas pualam hati,kejutkan aku dalam hidup !
serupa amsal rintik embun di ubun karang
dalam kisah penglipurlara
yang menggali liang kuburnya sendiri
setakzim malam
dan seintai pagi.

Ulasan

cheqmentie berkata…
well...ada jiwa dalam karangan kau, indah dan enak untuk dibaca. Kau reka sendiri ke weh?