Saat Aku Tak Ingin Menjadi 'Manusia'

Apakah pada dasarnya manusia adalah 'tidak sempurna'? Tak punya perasaan yang cukup, suka menyakiti dan selalu berfikir ke belakang? Apakah manusia itu sendiri adalah dilema hidup hingga mesti lahir kata etika,norma,sopan santun hingga harus ada pegangan dan prinsip? ...dan semua inilah diandaikan mampu merubah segala 'ketidak sempurnaan' itu?

Bagaimana menjadi manusia?

Aku runsing dengan pertanyaan seperti itu(yang biasanya akan diajukan buat diri sendiri). Ia mengandaikan suatu yang formatif,yang patut dan seharusnya.

Bagaimana menjadi manusia adalah bagaimana agar diterima manusia lain... dimasukkan ke dalam masyarakat atau bagaimana memiliki kartu tanda.


Siapa yang sebenarnya layak menetapkan taraf setara seorang manusia itu?


Apakah ada suatu keengganan dalam mencari identiti,budaya tegang rasa,menerima dan mewajarkan? Bagaimana membiasakan diri untuk tidak 'alergi' menerima perubahan? Sungguh! Prinsip-prinsip ini telah menjadi begitu kabur dalam manusia.

Bagaimana menjadi manusia?

Aku HARUS tertawa ketika orang-orang bercerita, berbicara, menyapa atau mengunjungi diri.Aku bersedih,menangis,tertawa,gembira mengikuti rentak mereka.Untuk menjadi manusia aku harus mendengarkan,berkomentar,simpati : Aku harus membenci... aku harus mencintai... aku harus TAHU.Seandainya tak ada mereka,seandainya tak ada ikatan.Maka tidak adalah apa-apa.

Seandainya aku bebas tidur di jalanan tanpa malu mempertimbangkan bagaimana menjadi manusia 'aku'.Seandainya aku merdeka mencintai siapa saja,apa saja tanpa harus tahu diri bagaimana menjadi manusia 'aku'.Aku tak kenal siapa saja dan apa saja.Dan setiap orang hanya melihat,sekadar menyapa,memenuhi kehendak masing-masing.

Kemudian selesai..

Aku ragu. Benarkah manusia suka berkumpul dan berserikat.Benarkah mereka masih suka seperti itu hanya untuk bersekutu,membuat kelompok,kumpulan,aliran,fahaman atau pegangan dan prinsip? Apa itu ikatan senasib seperjuangan? Apa itu pengorbanan? Apa erti sebuah setia kawan?

Perasaan... ini yang bertanggung jawab atas perang,pertengkaran,fitnah,cemburu,iri hati.

Bagaimana menjadi manusia?

Seberapa mungkin manusia melupakan keluarga dan sahabat-sahabatnya? Seberapa mungkin menjadi seperti 'itu' dan anggap mereka sebagai orang asing? Tak mudah terpengaruh atau bagaimana dunia adalah untuk kita bersama. Bahkan bagaimana jika tak ada istilah 'perasaan'?

Bagiku, ini semua adalah rancu. Aku tak dapat mungkin mencerna seisinya. Mana mungkin fikiran yang telah ditetapkan hati, yang sudah dibeban pengaruhi, boleh kembali seperti itu? Merubah semuanya adalah merubah setiap yang ada. Sampai bila-bila pun... Tapi, aku selalu berharap demikian. Aku tegar. Aku adalah manusia tapi aku tak mahu menjadi sesuatu yang tak mungkin aku boleh jadi. Aku adalah manusia yang tak harus tahu bagaimana menjadinya.

Aku tak ingin ada manusia lain atau aku ingin manusia ada yang 'lain-lain (egois mungkin). Dan bagaimana itu adalah ukuran manusia dan kesempurnaannya : masih tidak terjawab.

Benarkah kita begitu jadi penakut dalam kesepian? benarkah kita begitu jadi pengecut dalam kesendirian? Benarkah kita begitu liar dalam ketidak-teraturan?

Apakah pada dasarnya manusia adalah 'tidak sempurna'? Tak punya perasaan yang cukup, suka menyakiti dan selalu berfikir ke belakang? Apakah manusia adalah kutukan, hingga mesti lahir kata etika,norma,sopan santun hingga harus ada pegangan,prinsip dan hukuman? Semua inilah DIANDAIKAN mampu merubah segala keburukan itu? ATAUKAH malah sebaliknya? Kerana etika,norma,kerenah dan perangai : manusia menjadi buruk?
Atau paling tidak mereka jadi kenal dan memahami dimana segala keburukan terjadi?
Kemudian dari sinilah dimulai titik perbezaan itu.

TEPATNYA menyesuaikan terhadap apa yang dianggap 'baik' oleh manusia-manusia ini, sehingga ada 'kami' melawan 'selain kami', aku melawan kalian, dan akhirnya kita menjadi seperti hari ini?

Bagi aku, ini adalah kehidupan. Tapi aku selalu berharap demikian. Mungkinkah manusia hanya berpegangan dengan tanpa keyakinan? atau mungkinkah kita hanya manusia dengan tanpa apa-apa pun? soalnya... masing-masing. Bukan sebatas menang sahaja. Di dalamnya adalah bagaimana dan bila!

Kalau begitu akhirnya yang selalu, persoalannya juga akan sama.

Manusia akan tetap manusia kalau tidak sanggup BERUBAH.


P/S :
nasihat buat diri sendiri dan buat semua yang ada dalam diri

Setiap orang akan baik dalam keyakinannya masing-masing. Dan begitu tertutup menerima kesalahan orang lain. "Kerana kami adalah yang terbaik, maka yang selain kami tentu sahaja tidak baik". Sebab apabila semua rasa mereka yang terbaik, mereka akan bingung... dimana letak guna perasaan yang mereka yakini dan ada di dalamnya.

Begini. Hakikatnya,aku malas melayan dan menjadi manusia seperti itu...

Ulasan

areyoung berkata…
Dalam begini panjang coretan, aku suka ayat "Aku tegar".

Kita mesti TEGAR untuk terus masuk kelompok, gitu? ;)
thesandman berkata…
areyoung orangnya sangat diplomatik dan jujur menilai pendapat.

hidup mesti terus kan?
kulatkulat berkata…
aku duduk diam2 dalam kantor...
aku dengar lagu, sebuah lagu made in indonesia dendangan chrisye & ariel yang bertajuk peterpan...
aku hayati satau2 bait lagu itu, lalu aku teringat kata² kamu tempoh hari.. ya, aku menunggu seseorang tapi aku tak tahu sesiapa. kayaknya aku menulis untuk seseorang yang aku tidak tahu bila kewujudannya...
baru aku terfikir, aku juga sama...
menunggu & menunggu...
penat