( surat ni aku tulis untuk bakal teman wanita istimewa aku yang hilang entah kemana tapi tak pernah pun aku cuba nak cari sebab jumpa pun aku tak pernah... mungkin satu hari nanti bila tergerak hati kot )


Apa khabar?


Aku sudah lama tak mendengar khabarmu. Padahal kau pandang bulan yang sama dengan yang kupandang. Pada jalan yang kususuri pun masih terpeta jejak langkahmu ketika kau menapaknya. Tapi angin tak pernah menghantarkan percikan dirimu ke pelukanku. Mungkin hanya sesekali kau muncul dalam selimut jeratan mimpiku. Dan aku tak pernah tahu apakah aku pernah terbang mengunjungi kabut mimpimu.

Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Sungguh, aku benar-benar tak tahu. Aku kehilangan jejak langkahmu sejak kau letakkan kaca pemisah buram di antara kita. Bahkan memandang dari balik kaca untuk mengintip bayang dirimu pun aku tak bisa. Kabut pedih yang melingkupi terlalu tebal. Hanya gegap seri berdenyut yang kudapat.

Siapakah sekarang yang merajut titisan waktu bersamamu? Untaian masa kita terburai sudah. Hanya tertinggal serpihan-serpihan jiwa yang terserak. Terbelenggu dalam hening yang menyiksa.

Tapi aku rindu.

Bodohkah aku jika masih saja mengalamatkan rindu padamu? Saat tak ada lagi detik yang kau lewatkan untuk mengingatku. Saat tak ada lagi sisa diriku yang terpatri dalam hidupmu. Cabikan kenangan tentangku telah terburai. Bahkan hanya sekadar namaku pun kau lupakan.

Hanya hening yang kau tawarkan padaku. Tanpa imbalan apapun. Kau lontarkan hening ketika kupersembahkan rinduku. Hening yang terus meraja. Hening yang lahir dari benci. Rinduku terbentur hening. Tapi aku masih tetap merindumu. Kurengkuh hening ketika kumerindumu.

Sudahlah. Tak peduli aku berteriak sekuat tenaga kau tak akan mendengarku. Kau lebih memilih hening untuk menggantikan jerit hatiku. Hening yang memilukan. Hening yang hanya hantarkan cakap rindu kekasih seperti aku. Semoga kau baik-baik saja di seberang hening yang memisahkan kita.


dari,
Aku



Lebih seratus hari aku terjebak dalam keterasingan yang memaksaku melupakan huruf-huruf itu. CINTA yang dulu selalu menemaniku di setiap tarikan nafas dan detak jantung. Mencumbuiku setiap malam dan menamparku kala terdiam. Ternyata kesendirian hanya menjadikanku patung berlumut yang terendam di sungai-sungai yang mengalirkan mimpi. Dan aku hanya menikmati mimpi-mimpi yang tak pasti. Tapi aku akan kembali melangkahkan kaki ke dunia yang telah porak-peranda. Merakit bom waktu yang setiap saat meluluh-lantakkan tubuhku. Menjadikan dagingku berserakan dengan jantung yang berkeping-keping. Ternyata kematian dan kehidupan tidak berjarak. Kini aku kembali menjadi manusia bebas --- untuk mencintai huruf-huruf itu. Lalu meledakkannya di setiap ruang imaginasiku.


p/s : hari-hari berlalu tanpa imaginasi.heh!



Ulasan

areyoung berkata…
Whoaa... mungkinkah Sandman sudah terlalu jerih bersembunyi di balik lembayung harapan lalu kini mengintai di celahan perdu harapan kat tepi anak bukit demi mencari sesuap cinta?

Ngahahaha! Kenaaa!(Itulah..itu hari cakap aku..heheh)
kulatkulat berkata…
wah.. sapa gerangan...jeleslah