Udara yang dihirup di dalam ini adalah udara kecabaran
Pernahkah aku ceritakan kepada semua bagaimana ia mati?
Angin bersiur seperti nafsu yang bertamu didada
Para pecundang mengurung diri di anjung bisu.

Syahdan, sebait puisi berjalan di malam hari
Berkunjung ke kubur jiwa dan rindu
Peringatan hari itu berlalu dengan pesan
kata-kata, diakhiri tersingkat.

Syahdan, sebait puisi bertanya bagaimana jiwa dan rindu mati?
Hati tak menjawab... Ia duduk pegun
di tanda nisannya
Telunjuknya menorehkan

sebait puisi di gundukan persemadiannya.

Tak ada kata yang tepat untuk didamba
zaman yang menarik mata hati ini di sisi lain.
Hanya ... sendiri.
Cahayanya redup menerangi setiap langkah.
Padam ketika tubuhku bangkit.
Aku hanya ingin menularkan
harapan dalam kesuraman.



Di Mana Semesta Menyembunyikan Tidurku? Telah kau resapi keluh aku, juga kau hilangkan peluh resah untuk sebuah pengertian hidup. Esok aku tak datang lagi membaca mata dan tubuh lemah ini, berkisah tentang malam yang pilu. Kerana aku tak dapat membebaskan diri dari jebak misteri semesta yang setiap saat mengalunkan ayat-ayat kematian dan keinsafan. Apa yang kau lakukan, bila semesta menyembunyikan tidurku di balik tabir mimpi? Ke mana kau mencariku, bila semesta menutup pintu dan menghapus jejak debuku? Haruskah melupakanmu? Seperti aku lalai pada semesta dan ketentuannya. ( Diam dan fikir lagi tentang tujuan hidup banyak ubah hala arah sendiri )

Pernah. Saat sesuatu yang tidak dikehendaki terjadi, yang tersisa hanya penyesalan. Tidak akan ada yang bisa diubah lagi. Waktu pun tidak akan pernah diputar mundur lagi. Sesal...sesal... kata itu yang akan terus menghantui aku. Penyesalan tidak akan datang kalau tidak ada yang disesalkan. Penyesalan akan selalu terjadi nanti. Ketika semuanya sudah terjadi dan sudah terlewat. Dan penyesalan itu tidak akan ada gunanya lagi.

Jadi... Untuk apa ada penyesalan?

Kalau penyesalan cuma menambah beban kita, penyesalan itu tidak akan hilang. Lebih baik kita menghiasinya --- menghiasinya dengan syukur, agar penyesalan itu tidak sia-sia. Aku tak mampu tampak dalam genggaman waktu hingga berlalulah imbasan tanpa tahu jiwa menandai ikrar saat malam penuh seksa bercermin pada keruh? Itu yang buat aku tabah dan cekal sampai masa nanti. ( aku menggangguk dalam-dalam... diam-diam )


Dalam kesendirian, aku diam
Dalam kebersamaan, aku diam
Dalam duka, aku diam
Dalam suka, aku diam
Dalam kacau, aku diam
Dalam damai, aku diam
Orang bertanya, siapakah aku?
Aku hanyalah seorang pendiam yang ingin ketenangan...
Aku hanyalah seorang pendiam yang mencari jati diri...
Aku hanya seorang pendiam yang merenungi hidupku..




Itu aku yang sebenar.


Ulasan