RAYA 2004

... sayangnya syawal ini.


kenapa aku berharap dengan semua naluri yang memanas dalam rintihan sukma. kulambaikan tangan jiwa pada bayang-bayang yang terbang diantara bau aroma yang kuziarahi; semuanya dengan cucuran air mata yang mengalir tiada henti. Aku bahkan tak tahu jalan yang ditempuh ribuan awan ketika menyapa. Ketika kamarku terbelenggu dangan gerigi kenangan yang mengarat. Ketika aku terketuk dengan kayu-kayu yang melintang, membayangi setiap lirikan cahaya yang mengintip. Ketika kelembutan sinarmu menyelak jendela. Ketika kau menelanjangi jalinan kelembutan sutra yang melingkar di ketipisan hari. Ketika geraman ribuan awan menakuti aliran kandung kudus yang menjalar. Ketika aku berharap dengan semua naluri. Aku ingin menerokaimu dengan mengikis balutan kenistaanku ... Sayangnya aku pada Syawal ini.


aku memberi langkah padamu untuk datang padaku
daun-daun kering yang berjejak
bulan dicakar ranting
dengusku ...
aku memberi dada hati padamu
gersang.

hanya tinggal hilang
tidurlah dan bermukim
tunggulah kupu-kupu derhaka pulang
tenggelam bersama bulan di lautan
debur ombak nafas kita
aku memberi bingkai di wajahmu
lidah melukis cantik
selumat bibir.

menitis membasahi
ranum dada.
bulat mengalir dan hilang di rambut
rambut akal menepi bersama buih
buih ombak ... oh kasih!
tubuh ini tak bertuan
engkaupun khabar dibawa petir
menghujan hati menatap langit
termangu.

menunggumu turun bertingkat
meniti pelangi dan aku tidak ganggu langkahmu
awas!
aku jatuh ... cinta pada Syawal!



Salam Aidilfitri buat semua.

Ulasan